Hariansukabumi.com – Suasana Kampung Cimarinjung RT 001/009, Kedusunan Gunungbatu, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, tertutup kesedihan akibat kondisi Sungai Curug Cimarinjung yang kini sangat dangkal. Pada Minggu (11/1/2026).
Pendangkalan tersebut terjadi akibat akumulasi lumpur yang terbawa banjir selama bertahun-tahun, mengubah sungai yang dulunya menjadi urat nadi kehidupan menjadi sumber masalah yang mengancam kesejahteraan warga.

Kondisi sungai yang tidak normal membuat aliran air dari selokan tidak dapat terbuang lancar ke sungai setiap musim penghujan yang disertai pasang air laut. Akibatnya, air membanjiri ruas jalan utama, sawah-sawah di sekitar irigasi terkait, hingga beberapa homestay lokal.
Hal ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, melainkan juga menghentikan lajunya sektor pariwisata yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kampung.
Masyarakat berharap pemerintah terkait khususnya melalui Badan Wilayah Sungai (BBWS) Provinsi Jawa Barat segera melakukan pengerukan dan normalisasi sungai, serta memperbaiki sistem irigasi dan selokan agar aliran air dapat kembali berjalan lancar seperti semula.
Ajid, salah satu warga yang telah lama tinggal di kampung tersebut, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait dampak jangka panjang jika masalah ini tak segera diatasi.
“Menurut saya hanya bisa dengan normalisasi sungai dan perbaikan irigasi/selokan, karena bila tidak dikeruk dan diperbaiki saluran irigasinya dampaknya lumayan besar untuk perekonomian warga.
“Di antaranya, kampung kami sering didatangi pengunjung wisatawan, dan juga merupakan salah satu daerah penghasil padi terbanyak karena dalam setahun bisa melakukan 3 kali panen. Kalau kondisi ini masih dibiarkan, bagaimana dengan masa depan kampung kami?” ujarnya dengan nada cemas.
Pada hari kejadian, limpasan air yang meluap dari selokan menyebabkan banyak petani merugi berat akibat tanaman padi mereka terendam air. Infrastruktur jalan raya juga rusak parah dan selalu tergenangi setiap ada hujan deras, menghambat mobilitas dan distribusi hasil produksi masyarakat. “Harapan saya pemerintah bisa cepat merespon keinginan kami,” pungkas Ajid.
Masalah pendangkalan Sungai Curug Cimarinjung bukan sekadar soal kelancaran aliran air. Ini menjadi cermin keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil. Keterlambatan tindakan yang terus-menerus menunjukkan bahwa urusan ekonomi masyarakat bawah belum menjadi prioritas utama. Jika dibiarkan berlanjut, bukan hanya sektor pertanian dan pariwisata yang akan lenyap – melainkan juga harapan seluruh warga untuk hidup layak dan membangun masa depan yang lebih baik.

