Hariansukabumi.com – Kelompok Tani (Poktan) “Tani Mukti” yang diketuai Sobar Handiman (dikenal akrab sebagai Sober) di Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, menjadi sorotan setelah beberapa warga mengungkapkan dugaan penyalahgunaan bantuan pemerintah dan kekhawatiran terkait transparansi.
Seorang warga yang namanya dirahasiakan mengaku bahwa bantuan seperti mesin pengering padi modern (vertical dryer) tidak pernah digunakan oleh warga dan seolah-olah menjadi milik pribadi ketua poktan. Selain itu, warga juga menyatakan tidak pernah menerima bantuan bibit padi dan kacang yang seharusnya disalurkan, bahkan ada dugaan bibit tersebut digiling menjadi beras sebanyak 1,4 ton dan dimanfaatkan secara pribadi.
Tak hanya itu, warga juga mengungkapkan kasus terkait sapi yang dipercayakan kepada Sober saat ia sakit dan sapi sedang hamil, namun tidak mendapatkan upah jasa sama sekali selama satu tahun setengah.
Untuk mendapatkan informasi yang seimbang, awak media mendatangi tempat tinggal Sober pada Jumat (13/03/2026), namun hanya bertemu istrinya yang menyatakan suaminya sedang di sawah. Kemudian pada hari Senin (16/03/2026), pertemuan dilakukan dengan Sober di kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Ciemas bersama sodaranya, Agus Ali Mubarok.
Dalam kesempatan itu, Sober memberikan klarifikasi terkait setiap tuduhan. Menurutnya, benih yang disebutkan warga bukanlah bantuan, melainkan berasal dari perusahaan Brin yang diberikan secara gratis dan dibagikan ke beberapa desa seperti Mandrajaya, Ciwaru, dan Mekarsakti, dengan kesepakatan sebagian hasil panen akan dibelinya dengan harga di atas tengkulak.
Mengenai kasus sapi, Sober menjelaskan bahwa semua biaya perawatan mulai dari pakan, kayu, asbes, pupuk, hingga penyuntikan berasal dari dirinya. Ia juga menyatakan pernah membeli domba yang kemudian diambil dan dijual oleh warga tanpa ia persoalkan, serta menegaskan bahwa sapi tersebut adalah milik pribadinya, bukan bantuan.
Terhadap alat pengering padi, Sober menyampaikan bahwa kapasitas alat minimal 10 ton, sehingga jika diisi di bawah 5 ton akan menyebabkan biaya operasional yang mahal karena membutuhkan 5 hingga 6 derigen solar untuk mengeringkan padi hingga kadar air 15%. Sampai saat ini, hanya anggota tani Haji Cecep yang pernah menggunakan alat tersebut untuk mengeringkan sekitar 7 ton padi. Selain itu, alat tersebut juga telah memberikan kesempatan kerja bagi warga, meskipun pekerjaannya tidak tetap dan tergantung kondisi cuaca.
Sober menegaskan bahwa semua tuduhan yang dilontarkan warga telah ia jawab dan jelaskan secara rinci di depan awak media serta pihak BPP Kecamatan Ciemas.

