Hariansukabumi.com-Indonesia pernah berada di ambang lompatan besar dalam teknologi dirgantara. Saat banyak negara berkembang masih berkutat pada urusan dasar, kita justru memproduksi pesawat komersial turboprop canggih—N250, hasil karya anak bangsa, dipimpin oleh BJ Habibie. Namun, mimpi itu kandas. Bukan karena teknologi yang gagal. Bukan pula karena pasar tak menyambut. Tapi karena intervensi asing, khususnya dari International Monetary Fund (IMF), yang mensyaratkan penghentian proyek N250 sebagai bagian dari paket pinjaman saat krisis moneter 1997.
Melalui Letter of Intent (LoI), IMF menekan Indonesia untuk menanggalkan proyek-proyek strategis demi penyelamatan fiskal mereka menyebut proyek tersebut tidak efisien, dan IPTN (sekarang PTDI) dipaksa menghentikan produksi, padahal pesawat Gatotkaca dan Krincing Wesi telah melewati uji terbang dan sedang menuju sertifikasi internasional. Bahkan ketika itu BJ Habibie menyebutnya dengan jelas bahwa itu adalah sebuah perbuatan kriminal, bukan hanya terhadap industri, tapi juga terhadap harga diri bangsa. Begitulah betapa jahat dan dengkinya negara-negara maju terhadap Indonesia.
Hingga hari ini, luka itu masih terasa bagi generasi 70-80-an. Generasi baru mungkin hanya mengenal N250 sebagai pesawat yang dipajang di museum, bukan sebagai simbol kejayaan teknologi Indonesia. Bangsa kita telah kehilangan momentum, kehilangan SDM unggul yang akhirnya “dibajak” oleh negara lain. Bahkan, Brasil yang kini jadi salah satu kekuatan aviasi dunia lewat Embraer, tak lepas dari peran para insinyur Indonesia yang dulu kehilangan ruang berkarya.
Kini kita menyaksikan skenario serupa mulai dimainkan dalam bentuk yang berbeda. Inovasi digital Indonesia—seperti sistem pembayaran QRIS. Dengan QRIS Indonesia bisa mengintegrasikamnya dengan negara-negara seperti yang digunakan di Asia tenggara dengan biaya murah, yang tidak sama dengan Visa maupun MasterCard. (Bossman Mardigu)
Tak sedikit kebijakan ekonomi global yang dibungkus dengan jargon modernisasi, namun sejatinya adalah alat kontrol agar negara berkembang seperti Indonesia tetap dalam posisi konsumen, bukan produsen. Qris yang tumbuh pesat dan mulai membentuk ekosistem finansial mandiri adalah contoh bagaimana kemandirian digital kita juga berisiko dipangkas apabila tunduk pada tekanan global—baik melalui regulasi internasional, pengaruh big tech, maupun lembaga keuangan asing.
Ke depannya kita tidak boleh lagi mengulang kesalahan sejarah. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia harus berani berkata “tidak” pada tekanan yang menghambat kemajuan teknologi nasional. Kita harus berani menghidupkan kembali semangat Habibie.
Pemerintah harus bisa mengIntegritasikan kebijakan nasional, segala bentuk inovasi, baik di sektor aviasi, digital, maupun energi, harus dilindungi dari intervensi asing yang merugikan. Bangsa kita jangan lagi terjebak pada mentalitas inferior bahwa Barat selalu benar dan kita harus ikut saja.
Proyek N250 adalah pelajaran mahal tentang bagaimana intervensi asing bisa melumpuhkan kemajuan anak bangsa. Qris dan inovasi-inovasi lokal hari ini adalah medan perang baru dalam pertarungan geopolitik dan ekonomi digital. Jika kita tidak hati-hati, sejarah akan kembali menulis babak kekalahan. Tapi jika kita berani, ini bisa menjadi awal dari kebangkitan Indonesia sebagai bangsa mandiri dan berdaulat di bidang teknologi.
Azhar Vilyan*
Ulasan lengkap di Youtube Bossman Mardigu

