Hariansukabumi.com-JAKARTA — Pengamat ekonomi sekaligus akademisi Stanford University, Gita Wirjawan, tampil sebagai tamu dalam siniar (podcast) Helmy Yahya Bicara. Dalam perbincangan mendalam tersebut, mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia ini mengupas tuntas berbagai tantangan strategis bangsa, mulai dari kesiapan menuju visi Indonesia Emas 2045, pentingnya investasi pendidikan dan sains (STEM), hingga perlunya reformasi besar-besaran pada kompensasi tenaga pengajar di tanah air.
Menurut Gita, wacana mengenai Indonesia yang diramalkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045 merupakan hal yang achievable atau mungkin dicapai, dengan catatan utama: seberapa cepat dan jauh negara berinvestasi di bidang pendidikan.
”Bottom line-nya tergantung secepat dan sejauh apa kita investasi di pendidikan,” ujar Gita dalam bincang-bincang tersebut.
Gita menyoroti pentingnya demokratisasi barang publik yang tidak hanya terbatas pada pendistribusian suara dan kekuasaan, melainkan juga merata pada sektor intelektual, kognisi, pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan. Ia membandingkan kondisi di Indonesia dengan Tiongkok, di mana pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi dirasakan merata dan hampir tidak ada bedanya di berbagai kota.
Ia juga menekankan bahwa kapasitas kognisi masyarakat Indonesia saat ini masih memerlukan peningkatan yang signifikan agar mampu bersaing di rantai nilai global (value chain) yang lebih tinggi, tidak hanya berkutat pada sektor primer.
Salah satu poin krusial yang disoroti Gita adalah kondisi kesejahteraan guru. Dengan data bahwa sekitar 90 persen kepala rumah tangga di Indonesia tidak mengenyam pendidikan tingkat S1, peran guru di sekolah menjadi sangat vital untuk menanamkan atribut-atribut penting seperti ambisi, imajinasi, dan keberuntungan yang cerdas kepada anak didik.
Gita mengusulkan adanya eksperimen kebijakan konkret berupa peningkatan kesejahteraan guru, yakni dengan memberikan gaji yang layak—misalnya Rp10 juta per bulan—bagi satu juta guru di Indonesia. Menurutnya, langkah ini akan menarik talenta-talenta terbaik lulusan universitas top dunia untuk pulang dan mengajar di daerah asalnya.
”Kalau kita mau eksis sebagai demokrasi, narasi bangsa ke depan harus kental dengan kepentingan kita untuk mereformasi kompensasi guru dan kualitasnya,” tegas Gita.
Dalam pengelolaan talenta untuk pembangunan nasional (nation building), Gita menjelaskan bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam hal kuantitas diaspora maupun pengiriman pelajar ke luar negeri dibandingkan Tiongkok dan India. Ia mendorong agar Indonesia lebih serius mengadopsi strategi brain gain dan brain circulation dengan mengirim lebih banyak generasi muda untuk mendalami bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Ia mencatat bahwa rasio mahasiswa yang mendalami STEM di Indonesia saat ini masih berada di angka 22 persen, sementara beberapa negara tetangga dan Tiongkok telah melampaui angka 43 persen. Penguasaan bidang ini dinilai penting agar pemimpin dan generasi masa depan mampu menerjemahkan ketidakpastian menjadi risiko yang terukur serta mengelola infrastruktur modern seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dan transisi energi.
Di akhir perbincangan, Gita menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengambil peran di kancah global, termasuk peluang kerja sama di sektor industri antariksa dengan memanfaatkan wilayah Indonesia bagian timur seperti Biak sebagai lokasi peluncuran roket yang strategis secara geografis.
Melalui buku terbarunya yang berjudul “What It Takes: Southeast Asia”, Gita berharap kesadaran kolektif masyarakat dan para pemangku kebijakan terus meningkat agar Indonesia di tahun 2045 tidak hanya menjadi penonton (spectator), melainkan benar-benar menjadi pemilik dan pemangku kepentingan utama dalam peradaban global,.
Saksikan selengkapnya wawancara inspiratif ini melalui tautan video berikut: Gita Wirjawan, Teman Saya yang Paling Pintar! | Helmy Yahya Bicara.
