Hariansukabumi.com— Selama 13 tahun, hidup Ajeng Kholifah begitu dekat dengan dunia pesantren. Hari-harinya diisi dengan belajar Al-Qur’an, kitab, dakwah, hingga berbagai kegiatan yang membentuk keberanian dan kemampuan berkomunikasi.
Tidak banyak yang menyangka bahwa perjalanan panjang tersebut pada akhirnya membawanya menuju sebuah kesempatan yang jauh lebih luas: menjadi peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7 Tahun 2026 yang akan berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Ajeng merupakan santriyyah asal Sukabumi yang saat ini menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat, Tasikmalaya.
Namun, perjalanan menuju forum internasional tersebut bukan sesuatu yang muncul dalam semalam.
Dari Menghafal, Berdebat, hingga Berdiri Membawa Suara Santri
Selama berada di lingkungan pesantren, Ajeng berkembang melalui berbagai bidang. Ia aktif dalam tahfiz Al-Qur’an, kajian kitab dan fikih, Bahtsul Masail, pidato dan dakwah, debat, kaligrafi, hingga desain grafis.
Ia juga memiliki pengalaman mulai Bahtsul Masail Fikih, mengikuti Simaan Alfiyyah Ibnu Malik, serta berbagai kegiatan keilmuan dan keagamaan lainnya.

Berbagai prestasi pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut, termasuk juara dalam bidang kaligrafi, pidato, MHQ, dakwah, desain grafis, debat, seni, hingga olahraga.
Tetapi ada satu hal yang lebih penting daripada sekadar daftar prestasi: 13 tahun pendidikan pesantren telah menjadi proses membentuk cara berpikir dan keberanian Ajeng untuk berbicara di hadapan orang lain.
Yang Dibawa Bukan Hanya Koper
Ketika nantinya berangkat ke Malaysia, Singapura, dan Thailand, Ajeng tidak hanya membawa perlengkapan perjalanan.
Ia membawa pengalaman yang dibangun selama bertahun-tahun di lingkungan pesantren—mulai dari tradisi keilmuan, nilai Islam Nusantara, kemampuan komunikasi, hingga pengalaman hidup sebagai seorang santriyyah dari Sukabumi.
ICSM sendiri memiliki tujuan untuk memperkenalkan santri sebagai aktor diplomasi budaya, memperkenalkan nilai-nilai Islam moderat Nusantara, melestarikan warisan budaya, serta membangun dialog lintas budaya dan jejaring pemuda.
Di situlah perjalanan 13 tahun tersebut menemukan babak barunya.
Dulu belajar untuk mengenal dunia. Kini mendapat kesempatan untuk membawa apa yang dipelajari dari pesantren ke dunia.
Bagi Ajeng, kesempatan ini bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Ia ingin menjadikannya ruang untuk belajar dari keberagaman perspektif, membangun jejaring, sekaligus menunjukkan bahwa santri dapat berkomunikasi, berkolaborasi, berprestasi, dan berkontribusi di ruang yang lebih luas.
Dari Sukabumi, 13 tahun ditempa pesantren, kemudian melangkah menuju tiga negara.
Sebuah perjalanan yang bermula dari ruang-ruang belajar sederhana, tetapi kini membuka pintu menuju panggung internasional.
Red
