Hariansukabumi.com- Utuy Tatang Sontani merupakan salasatu sastrawan terkemuka dari golongan sastrawan angkatan 45
Utuy lahir di Cianjur, pada 1 Mei 1920.
Utuy sangat dikenal dengan kamahirannya dalam membuat situasi
Kebimbangan kepada para pembaca/penonton. Karyanya menyasar ke relung paling dalam jiwa para penikmatnya. Terlebih pada drama “Boenga Roemah makan” yang terdiri atas 21 adegan yang menceritakan seorang gadis cantik pelayan rumah makan bernama Ani. Dan dalam naskah dan pementasan drama tersebut terdapat suatu intrik antara Karnaen, Ani dan Iskandar yang menjadi figur dalam sebuah drama yang pertama kali di terbitkan ditulis pada 1947 itu, sehingga Pembaca/penonton akan berada dalam situasi keraguan ketika akan memilih siapa sebenarnya yang termasuk ke dalam golongan antagonis maupun protagonis
Di situ efek psikologis dari pembaca/penonton sangat dipermainkan oleh Utuy, meski sempat H.B. Jassin sangat berkeberatan apabila drama Boenga Rumah Makan ini digolongkan sebagai drama psikologis.
Utuy aktif mengirimkan karya-karyanya ke Sinar Pasundan, dengan menggunakan nama Sontani.
Karya perdana dari Utuy adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937) sebuah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17. Novel ini pertama kali dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama
PERJALANAN KE MOSKWA
Pada 1 Oktober 1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan 1 Oktober di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok.
Pecahnya G30S pada 1965 di Indonesia membuat mereka terlunta-lunta di tanah asing. Sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan negara itu setelah pecah Revolusi Kebudayaan pada 1966.
Lalu, mereka pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti di Moskwa, termasuk Utuy dan sejumlah kawannya, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakjat.
Kedatangan Utuy di Moskwa disambut hangat oleh pemerintah Uni Soviet dan masyarakat ilmiah di sana, terutama karena nama Utuy sudah dikenal luas lewat karya-karyanya dan kehadirannya dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika pada 1958.
Kemudian Utuy diminta mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah fakultas Universitas Negeri Moskwa M. V. Lomonosov,
Salah satu novelnya yang ditulisnya dan diterbitkan di Moskwa adalah Kolot Kolotok. Novel ini hanya dicetak terbatas untuk bahan studi di Jurusan Indonesia, Universitas Negari Moskwa
Selain ke dalam bahasa Rusia dan Estonia, karya-karya Utuy juga diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, mis. bahasa Inggris, Mandarin, Tagalog
Hidup bertahun-tahun di negeri orang dan berpisah dengan keluarga membuat Utuy kesepian. Hidupnya diisi dengan mencurahkan kerinduannya terhadap keluarga dan Tanah Air dengan menulis karya-karyanya.
Tahun 1979, kabar duka datang dari Moskwa. Utuy meninggal dan dimakamkan di Moskwa, Rusia.
Sebagai penghormatan, nisannya ditempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam pertama oleh pemerintah Soviet di Moskwa.
Namun sayangnya kondisi makam Utuy saat ini dikatakan dalam kondisi yang tidak terawat.
Pada masa Orde Baru, sama seperti para penulis yang mendapatkan stigma komunis, karya-karya Utuy dilarang beredar oleh pemerintah hingga masuknya Orde Reformasi
Harvi

