Hariansukabumi.com – Warga Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, dilanda kecemasan menyusul maraknya kasus kehilangan uang secara misterius tanpa jejak yang jelas, Kamis (11/6/2026). Fenomena ini membuat sebagian besar warga mengaitkannya dengan mitos tuyul, hingga berinisiatif memasang pamplet bertuliskan peringatan di sejumlah titik lingkungan.
Berdasarkan laporan yang beredar, cara hilangnya uang terasa sangat janggal. Dalam banyak kasus, uang yang disimpan di tumpukan atau ikatan utuh hanya berkurang beberapa lembar saja, sedangkan sisanya tetap tertinggal. Pola ini dianggap tidak wajar jika dilakukan oleh manusia, sehingga memunculkan dugaan kuat bahwa pelakunya adalah makhluk halus yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat sebagai tuyul.
Salah satu warga yang menjadi korban, Mohsidik, menceritakan pengalaman pahit yang menimpanya selama beberapa waktu terakhir. Ia mengaku uangnya sering hilang secara tiba-tiba, baik yang disimpan di dalam rumah maupun di dalam dompet. Bahkan, saat momen Idul Fitri lalu, ia pernah kehilangan uang senilai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Jika dihitung secara keseluruhan, kerugian yang ia derita dari modal usaha dan penghasilan mencapai hampir Rp12 juta.
“Caranya aneh dan tidak menentu. Ada yang hilang Rp10 juta, ada juga yang cuma Rp1 juta. Kadang dari satu ikat uang Rp1 juta, yang hilang cuma Rp100 ribu atau Rp200 ribu. Jumlahnya tidak pernah sama setiap kali kejadian,” jelas Mohsidik dengan nada bingung. Ia mengaku merasa gelisah karena peristiwa ini terus berulang tanpa ada kejelasan pasti mengenai penyebabnya.
Merasa tidak ada titik terang dan tidak menemukan bukti pencurian biasa, sejumlah warga memasang pamplet bertuliskan peringatan. Tindakan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi siapa pun yang dianggap memelihara tuyul agar menghentikan perbuatannya, sekaligus memberikan rasa aman bagi lingkungan sekitar.
Menyikapi maraknya isu tersebut, Kepala Desa Girimukti, Akung Sanjaya, meminta warga untuk tetap berhati-hati dan tidak mudah terprovokasi. Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui siapa yang memasang pamplet maupun stiker peringatan tersebut.
“Terkait pemasangan pamplet atau stiker ini, kami dari Pemerintah Desa Girimukti tidak tahu siapa yang memasangnya. Ke depannya, kami akan berkoordinasi dengan lintas sektor terkait untuk membahas keresahan masyarakat dan bermusyawarah memastikan kebenaran isu bahwa desa ini rawan tuyul sesuai tulisan di pamplet: ‘Hati-hati di Desa Girimukti Rawan Tuyul’,” ujarnya.
Akung Sanjaya menambahkan bahwa isu mengenai tuyul belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan memerlukan kajian lebih mendalam. Ia juga membuka kemungkinan bahwa jika memang ada pelaku pencurian, bisa jadi bukan berasal dari warga setempat, melainkan orang luar.
“Isu tuyul ini belum bisa dibuktikan, jadi perlu banyak kajian. Bisa saja jika ada yang berbuat demikian, pelakunya bukan dari Desa Girimukti, melainkan dari luar desa,” tegasnya.
Ia pun menghimbau seluruh masyarakat agar tetap waspada namun tidak langsung mempercayai isu tersebut sebelum ada bukti yang jelas dan nyata. Warga diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan disarankan menyimpan uang di tempat yang lebih aman seperti lembaga perbankan guna meminimalkan risiko kehilangan.
Anwar*

