Hariansukabumi.com — Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei nasional terbaru terkait peta elektabilitas calon presiden periode 1–10 Oktober 2026. Berdasarkan temuan tersebut, elektabilitas petahana Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan konsisten, sejalan dengan merosotnya tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja pemerintah dalam dua tahun terakhir.
Rilis survei yang dipaparkan oleh Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irfani, bersama Prof. Saiful Mujani ini menunjukkan bahwa approval rating Prabowo Subianto kini berada di bawah batas psikologis 50 persen, yakni di angka 44,5 persen. Penurunan sentimen positif publik ini berdampak langsung terhadap pergeseran dukungan elektoral menuju sejumlah tokoh potensial.
Dalam simulasi semi terbuka yang menyodorkan 24 nama tokoh potensial kepada responden, figur Dedi Mulyadi (KDM) memimpin perolehan suara teratas dengan dukungan mencapai 35,5 persen. Di posisi berikutnya, Anies Baswedan memeroleh 10,3 persen, disusul Presiden petahana Prabowo Subianto 9,8 persen, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen.
“Dedi Mulyadi unggul signifikan dalam simulasi semi terbuka. Sementara itu, elektabilitas Prabowo Subianto sebagai petahana terus mengalami tren penurunan dari waktu ke waktu, seiring merosotnya evaluasi positif terhadap kinerja makro pemerintah,” ujar Deni Irfani dalam paparannya.
SMRC juga melakukan simulasi head-to-head antara Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto. Hasilnya, ketika dihadapkan secara langsung, Dedi Mulyadi meraup 69 persen dukungan, jauh meninggalkan Prabowo Subianto yang meraih 18,8 persen. Sebagian besar pemilih yang sebelumnya tersebar ke berbagai tokoh lain terakumulasi ke kubu Dedi Mulyadi tatkala kontestasi disederhanakan menjadi dua figur.

Sementara itu, dalam simulasi tiga nama tanpa kehadiran Dedi Mulyadi—yakni mengadu Gibran Rakabuming Raka, AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), dan Prabowo Subianto—dukungan publik terbagi secara kompetitif. Gibran meraup 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo Subianto berada di angka 22,7 persen.
Temuan menarik lainnya diungkap terkait perilaku pemilih partai politik di parlemen. Berdasarkan analisis cross-tabulation, mayoritas pemilih dari partai-partai koalisi pendukung pemerintah di parlemen—termasuk dari Partai Gerindra sendiri—ternyata tidak lagi menempatkan Prabowo sebagai pilihan utama dalam simulasi elektoral. Di kalangan pemilih Gerindra, pemilih yang menyatakan tetap memilih Prabowo tercatat sekitar 20 persen, sementara sisanya terdistribusi ke figur-figur alternatif.
Penurunan elektabilitas petahana ini, menurut SMRC, erat kaitannya dengan pendekatan rasional pemilih (rational choice theory) terhadap kondisi makroekonomi, penegakan hukum, serta efektivitas program-program pemerintah.
Survei mencatat bahwa mayoritas responden (50,8 persen) menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam kategori buruk. Selain itu, evaluasi terhadap penanganan masalah-masalah mendesak seperti tingginya harga kebutuhan pokok dan pengentasan kemiskinan turut menyumbang sentimen negatif. Bahkan, sosialisasi program-program unggulan pemerintah dinilai belum berhasil memberikan penguatan elektoral yang signifikan terhadap posisi politik petahana.
Dengan sisa waktu masa pemerintahan berjalan, tren pergeseran dukungan ini memberikan sinyal kuat perlunya evaluasi kebijakan strategis bagi para elite dan partai politik dalam membaca arah aspirasi serta kebutuhan riil masyarakat di akar rumput.
Sumber:

