• #4671 (tanpa judul)
  • About
  • Adv
  • Advertise
  • Blog
  • Blog
  • Contact
  • Contact
  • Contact Us
  • Contact Us
  • Donation Confirmation
  • Donation Failed
  • Donation History
  • Home
  • Home
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Layout
  • Left Sidebar
  • No Sidebar Content Centered
  • No Sidebar Full Width
  • Panduan Media Siber
  • Redaksi
  • Right Sidebar
HARIAN SUKABUMI
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
HARIAN SUKABUMI
No Result
View All Result
Home Sukabumi

Gita Wirjawan Ungkap Ancaman Brain Drain, Ilmuwan dan Talenta Terbaik Indonesia Pilih Berkarier di Luar Negeri

hariansukabumi.com by hariansukabumi.com
Agustus 16, 2026
in Sukabumi
0
Gita Wirjawan Ungkap Ancaman Brain Drain, Ilmuwan dan Talenta Terbaik Indonesia Pilih Berkarier di Luar Negeri
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hariansukabumi.com-JAKARTA — Indonesia dinilai tengah menghadapi ancaman serius berupa fenomena brain drain atau hilangnya talenta-talenta terbaik bangsa di bidang sains dan teknologi. Minimnya insentif, fasilitas riset yang terbatas, hingga belitan birokrasi yang rumit ditengarai menjadi alasan utama para ilmuwan, peneliti, dan lulusan terbaik luar negeri enggan kembali untuk mengabdi di tanah air.

 

Sorotan tersebut mengemuka dalam pembahasan mengenai tata kelola sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang diungkap oleh mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan bersama pengamat geopolitik dan ekonomi Mardigu Wowiek.

 

Gita Wirjawan membeberkan empat pola atau strategi utama yang diterapkan oleh negara-negara maju dalam mengolah talenta untuk melompat menjadi raksasa industri dunia:

 

Brain Train (Jepang): Memfokuskan industrialisasi sepenuhnya dengan talenta dalam negeri, di mana mayoritas peraih Nobel asal Jepang menempuh pendidikan di dalam negeri.

 

Brain Gain (Australia): Membuka pintu lebar bagi talenta global berbakat untuk masuk dan membangun industri nasional.

 

Brain Circulation (Tiongkok): Mengirim jutaan pemuda ke luar negeri untuk mempelajari ilmu Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), lalu membawa mereka kembali untuk membangun industri raksasa seperti Huawei dan BYD.

 

Brain Linkage (India): Mengirim jutaan warga untuk menguasai posisi puncak di pusat teknologi dunia seperti Silicon Valley, lalu menghubungkan kembali modal, jaringan, serta pengetahuan tersebut ke negara asal.

 

Indonesia Terjebak Belenggu Birokrasi

Berdasarkan catatan statistik, jumlah diaspora Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri dalam 50 tahun terakhir tidak mencapai 300.000 orang. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan Tiongkok yang telah mengirim lebih dari 9 juta orang, atau India yang mengirim sekitar 7 juta orang ke berbagai belahan dunia.

 

Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya talenta jenius asal Indonesia yang lebih memilih berkarier di luar negeri seperti Singapura, Amerika Serikat, dan Eropa.

 

“Bagaimana mereka mau pulang kalau sesampainya di tanah air justru disambut birokrasi yang rumit? Di luar negeri penemuan mereka dihargai mahal, begitu pulang justru disibukkan dengan laporan administrasi, kuitansi, dan SPJ sekadar untuk mencairkan dana riset,” ujar Mardigu Wowiek dalam keterangannya.

 

Selain persoalan administrasi, pemotongan anggaran riset, fasilitas laboratorium yang minim, hingga pengisian posisi strategis di BUMN atau lembaga riset yang sering kali didominasi pertimbangan kompromi politik ketimbang kapasitas akademis, makin memperburuk iklim inovasi nasional.

 

Strategi Akselerasi: Gabungan Brain Gain dan Brain Circulation

Guna memutus rantai kebocoran talenta tersebut, Indonesia didesak untuk segera menerapkan kombinasi strategi Brain Gain dan Brain Circulation.

 

Pemerintah diimbau untuk memangkas regulasi birokrasi feodal dan menyiapkan ‘karpet merah’ berupa insentif serta fasilitas riset yang memadai bagi para diaspora. Selain itu, pengiriman generasi muda secara masif ke pusat-pusat teknologi dunia harus terus didorong agar ilmu yang didapat dapat diputar kembali untuk memperkuat ekosistem industri strategis di dalam negeri.

 

Sumber: Channel YouTube Bossman Mardigu

 

Selengkapnya:https://youtu.be/KsdO8kBO8OM?si=g2ITYMTSYH2VR6rt

Previous Post

Pemkab Sukabumi Semarakkan HUT ke-81 RI dengan Semangat Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

Next Post

Perang Teknologi Memanas! AS Ultimatum Puluhan Negara: Pilih AI Amerika atau China

hariansukabumi.com

hariansukabumi.com

Next Post
Perang Teknologi Memanas! AS Ultimatum Puluhan Negara: Pilih AI Amerika atau China

Perang Teknologi Memanas! AS Ultimatum Puluhan Negara: Pilih AI Amerika atau China

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Browse by Category

  • Apps
  • Berita Desa
  • Breaking News
  • Business
  • Entertainment
  • Gadget
  • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • LifeStyle
  • Mobile
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politics
  • Politik & Hukum
  • Popular News
  • Sejarah
  • Sports
  • Startup
  • Sukabumi
  • Tech
  • Technology
  • Travel
  • What's Hot
  • Wisata & Kuliner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
HARIANSUKABUMI.COM

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.