• #4671 (tanpa judul)
  • About
  • Adv
  • Advertise
  • Blog
  • Blog
  • Contact
  • Contact
  • Contact Us
  • Contact Us
  • Donation Confirmation
  • Donation Failed
  • Donation History
  • Home
  • Home
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Layout
  • Left Sidebar
  • No Sidebar Content Centered
  • No Sidebar Full Width
  • Panduan Media Siber
  • Redaksi
  • Right Sidebar
HARIAN SUKABUMI
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
HARIAN SUKABUMI
No Result
View All Result
Home Sukabumi

Aman Datuk Madjoindo, Sastrawan Minang Penulis Novel “Si Doel Anak Betawi “

hariansukabumi.com by hariansukabumi.com
Maret 4, 2022
in Sukabumi
0
Aman Datuk Madjoindo, Sastrawan Minang Penulis Novel “Si Doel Anak Betawi “
0
SHARES
402
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hariansukabumi.com- Banyak masyarakat indonesia khususnya di era 90-an yang telah mengenal baik sosok Doel, Sarah maupun Zainab yang menjadi sosok penting dalam film ‘Si Doel Anak Sekolahan’ namun sedikit dari masyarakat yang mengetahui siapa pembuat cerita film yang dibintangi artis papan atas kala itu, Rano Karno, Bemyamin.S. Mandra, Cornelia agatha, Maudy kusnaidi, serta Basuki tersebut

Sebetulnya dalam dunia sastra nama Aman Datuk Madjoindo sudah sangat dikenali dan tidak asing lagi Terutama dalam dunia cerita anak.

Aman lahir di Supayang, Solok, Sumatera Barat pada tahun 1896.
Aman kecil bersekolah di Inlansche School(Sekolah Bumiputera)  tahun 1906-1911.

Aman yang mulai remaja bercita-cita ingin menjadi seorang pengarang. Selain itu, ia juga ingin menjadi redaktur dan penerjemah.

Cita-citanya itu kesampaian ketika Balai Pustaka pada waktu itu membutuh kan penerjemah buku anak-anak berbahasa Belanda ke dalam bahasa Melayu.

Sebagai bekal untuk menambah ilmu dan perbendaharaan kata bahasa ia pun mendalami dengan serius bahasa Belanda dengan mengikuti kursus

Setelah lulus kursus, kemudian Aman diangkat menjadi redaktur. Setelah menjadi redaktur. Pada kesemmpatan itulah bakatnya berkembang dengan pesat. Mulai dari menyadur menerjemah hingga menyusun karangan.

Aman bekerja di Balai Pustaka bersama Nur Sutan Iskandar yang menjadi Meleische Redactuur ‘Redaksi bahasa Melayu’. Selain bersama Nur Sutan Iskandar, Aman juga berkenalan dengan staf redaksi yang lain, yaitu Tulis Sutan Sati, Sutan Muhammad Zein, dan Sutan Pamuntjak. Menurut pengakuan Aman Sutan Pamuntjak banyak mempunyai andil dalam perjalanan kariernya.

Aman mempunyai keinginan untuk mengarang cerita tentang anak-anak Betawi asli yang tidak mau bersekolah dan hanya mengaji saja, sehingga ketinggalan dari teman-temannya yang datang dari luar Betawi.

Sehingga keinginan itu diwujudkan dalam karyanya yang berjudul “Si Dul Anak Betawi” yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1932.
Cerita itu dibuatnya dengan menggunakan dialek Betawi (Jakarta). Karya Aman itu sangat terkenal walaupun ditulisnya hanya dalam waktu dua sampai tiga bulan saja.
Meskipun karangan itu ditulis dengan waktu yang relatif cepat tapi ceritanya sangat asik untuk dibaca.

Novel tersebut pun jadi sangat terkenal dan menjadi perhatian para insan film tanah air. Kemudian novel tersebut diangkat jadi film layar lebar pada tahun 1972 dan ditayangkan perdana di layar kaca pada tahun 1994 oleh TV swasta. Ternyata film dari cerita novel putra dari tanah Minang yaitu Aman Datuk Madjoindo itu sangat digemari pada tahun 90-an hingga diputar di 2 stasiun tv besar di tanah air

Selain dari novel Si Doel Anak Sekolahan Aman juga menulis.
“Sebabnya Rafiah Tersesat.
Nyingkirkeun Rurubed, Menebus Dosa,
Si Cebol Rindukan Bulan,Rusmala Dewi.
Perbuatan Dukun, Sampaikan Salamku Kepadanya,dll.

Aman Datuk Madjoindo adalah seorang karyawan yang tekun bekerja, tetapi kurang memperhatikan kesehatan. Akibatnya, ia terserang sakit paru-paru dan harus dirawat di Sanatorium Cisarua Bogor. Karena penyakitnya, pada tahun 1927, ia mengambil cuti dan istirahat di Solok, kota kelahirannya. Ia memilih Solok karena udaranya sama dengan di daerah Cisarua. Namun, di Solok ternyata ia tidak dapat beristirahat. Akibatnya, kesehatannya tidak juga bertambah baik. Setelah cutinya habis, ia kembali ke Jakarta. Akan tetapi, baru beberapa bulan bekerja, ia harus kembali ke Sanatorium.

Kemudian pada tanggal 5 September 1969 (umur 73) ia pun menghadap sang Ilahi di tanah kelahirannya Solok, Sumatra Barat

Azhar Vilyan

Dari berbagai sumber

 

 

Previous Post

Pengamat Militer Sebutkan Rusia Ingin Memberi Pelajaran pada AS dan NATO

Next Post

Warga Minang Tolak Bantuan dari Menag untuk Korban Gempa Pasaman Barat Sebesar 2.3 Miliar

hariansukabumi.com

hariansukabumi.com

Next Post
Warga Minang Tolak Bantuan dari Menag untuk Korban Gempa Pasaman Barat Sebesar 2.3 Miliar

Warga Minang Tolak Bantuan dari Menag untuk Korban Gempa Pasaman Barat Sebesar 2.3 Miliar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Browse by Category

  • Apps
  • Berita Desa
  • Breaking News
  • Business
  • Entertainment
  • Gadget
  • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • LifeStyle
  • Mobile
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politics
  • Politik & Hukum
  • Popular News
  • Sejarah
  • Sports
  • Startup
  • Sukabumi
  • Tech
  • Technology
  • Travel
  • What's Hot
  • Wisata & Kuliner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
HARIANSUKABUMI.COM

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.