Hariansukabumi.com-JAKARTA, 13 Agustus 2026 — Akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung menyampaikan kritik pedas terhadap lanskap politik nasional, sikap kelompok oposisi, hingga kedangkalan berpikir para akademisi yang dinilainya gagal merumuskan gagasan alternatif bagi masa depan Indonesia.
Dalam pandangannya, dinamika politik saat ini terjebak dalam kecengengan, frustrasi, dan perdebatan dangkal tanpa tawaran oposisi yang substantif.
Rocky Gerung menilai kelompok oposisi saat ini mengalami disorientasi karena hanya meluapkan kemarahan tanpa arah. Ia secara khusus menyoroti wacana pembentukan “kabinet bayangan” yang dinilainya tidak memiliki tawaran counter-paradigma (antitesis) yang jelas terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto .
Menurutnya, jika kabinet pemerintah mengeklaim berhaluan sosialis, oposisi sejatinya harus berani mempertegas posisi ideologisnya secara radikal—misalnya dengan mendeklarasikan diri berhaluan kapitalis atau free market liberalism—sehingga terjadi dialektika dan perdebatan ideologi yang bermutu.
Ia melontarkan gagasan radikal (radical break) bahwa langkah yang dibutuhkan bukanlah membayang-bayangi kekuasaan, melainkan membubarkan hingga 90% struktur kabinet yang ada.
Menyoroti arah masa depan republik, Rocky melontarkan tesis akademis mengenai perlunya mendiskusikan kembali bentuk negara, termasuk potensi penerapan sistem federalisme atau persemakmuran di Indonesia. Menurutnya, ketakutan memperdebatkan bentuk negara merupakan bentuk kedangkalan berpikir .
Ia menggarisbawahi ketimpangan struktur ekonomi politik nasional di mana sumber daya alam melimpah yang ada di Indonesia Timur terus disedot ke pusat kekuasaan di Indonesia Barat. Namun, ketika wilayah Indonesia Timur menuntut keadilan, mereka sering kali dicap secara negatif sebagai ancaman disintegrasi.
Rocky juga menyentuh perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemanfaatan APBN . Ia mengkritik logika kelompok kritikus dan lembaga hukum yang menilai MBG bertentangan dengan anggaran pendidikan secara kaku.
Bagi Rocky, memberikan nutrisi gizi pada anak adalah perintah implisit konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mengingat pemenuhan nutrisi berpengaruh langsung pada perkembangan kognitif (IQ) dan saraf otak anak-anak Indonesia . Ia menyoroti kekhawatiran bahwa kelalaian memenuhi gizi awal akan memicu masalah kualitas sumber daya manusia jangka panjang.
Mengakhiri orasinya, Rocky prihatin atas absennya komunitas berpikir (community of thought) di Indonesia. Bangsa ini dinilai lebih sering memproduksi sentimen ketimbang argumen ilmiah yang berbobot.
Ia mengajak para intelektual, akademisi, dan pemuda untuk berani berduel argumen secara jujur dan tidak terjebak pada narasi prasangka personal (ad hominem), guna memastikan arah Indonesia tidak sekadar menjadi bayang-bayang politik pragmatis.
Berita ini disusun berdasarkan tayangan diskusi bertajuk “ROCKY GERUNG NGAMUK KE PARA PENGAMAT DUNGU!” yang dipublikasikan oleh kanal YouTube Rocky Gerung Official.
Selengkapnya:
