• #4671 (tanpa judul)
  • About
  • Adv
  • Advertise
  • Blog
  • Blog
  • Contact
  • Contact
  • Contact Us
  • Contact Us
  • Donation Confirmation
  • Donation Failed
  • Donation History
  • Home
  • Home
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Layout
  • Left Sidebar
  • No Sidebar Content Centered
  • No Sidebar Full Width
  • Panduan Media Siber
  • Redaksi
  • Right Sidebar
HARIAN SUKABUMI
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan
No Result
View All Result
HARIAN SUKABUMI
No Result
View All Result
Home Sukabumi

“Masa Bersiap” Sejarah Kelam Perjalanan Bangsa Indonesia

hariansukabumi.com by hariansukabumi.com
Mei 1, 2023
in Sukabumi
0
0
SHARES
250
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hariansukabumi.com- Bersiap, sebuah kata yang mencakup kengerian dan kekacauan yang melanda Jawa pada tahun 1945-1947, merujuk pada periode transisi kekuasaan dari Tentara Kekaisaran Jepang kepada pemerintahan Republik Indonesia. Tetapi sayangnya, ini juga merupakan periode yang kelam karena terjadi tindakan pembantaian, perampokan, dan kekerasan massal yang dilakukan oleh kelompok pro-kemerdekaan yang disebut sebagai Pemoeda dan Pelopor.

Banyak orang yang menjadi korban, dari orang Belanda dan keturunannya, orang Tionghoa, orang Jawa, orang Maluku, dan kelompok lainnya yang memiliki status sosial ekonomi yang tinggi. Perkiraan jumlah korban berkisar antara 3.500 hingga 20.000 jiwa tewas secara mengenaskan. Orang Eropa dan Indo menjadi target utama dalam kekacauan ini, tetapi tidak sedikit pula korban yang berasal dari orang Tionghoa dan Maluku.

Dalam rentang waktu ini, jarang sekali ditemukan orang keturunan Belanda atau Eropa yang masih tinggal di Indonesia hingga saat ini, sebab banyak dari mereka menjadi korban dari Masa Bersiap atau memilih untuk melarikan diri ke Eropa. Selain itu, banyak orang Tionghoa kaum kanan waktu itu mendukung partai Kuomintang yang pro-Belanda sehingga juga ikut menjadi korban dari masa tersebut.

Masa Bersiap merupakan sebuah teror, kekacauan, dan kekerasan yang dilatarbelakangi amarah dan keinginan balas dendam pribumi terhadap kolonialisme Belanda.

Periode ini terjadi seusai Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, pada saat itu, Belanda masih tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Belanda merasa masih berhak atas Indonesia, sehingga mereka berupaya kembali merebut kekuasaan.

Dan Pada Oktober 1945, pemerintah Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan menempatkan Letnan Gubernur Jenderal Huib van Mook di Batavia (Jakarta).

Keinginan Belanda untuk kembali menduduki Indonesia pun menyulut amarah dan kebencian rakyat pribumi dan terjadilah tragedi kelam itu

Masa Bersiap dimulai dengan penjarahan dan perampokan yang terjadi di Depok pada tanggal 9 Oktober 1945, di mana Depok merupakan pusat tempat tinggal orang Indo. Sementara itu, masa akhir Bersiap ditetapkan pada saat munculnya aksi Agresi Militer Belanda I atau Aksi Polisi Belanda I pada bulan Januari 1947. Namun, pemerintah Belanda memberikan definisi yang lebih luas untuk masa ini, yaitu dari Kapitulasi Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Dan sampaik saat ini masih banyak yang belum mengetahui kengerian “Sejarah Bersiap”
Dalam konteks sejarah Indonesia, periode ini sering kali luput dari perhatian atau hanya dibicarakan secara dangkal, meskipun merupakan momen penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Dalam pembukaan tulisan ini, penggunaan kata “kengerian” menyoroti kebrutalan dan kekejaman yang sangat tidak pantas untuk dijadikan sejarah bangsa. Ini menunjukkan pentingnya untuk mengingat dan mempelajari sejarah kita secara jujur dan terbuka, termasuk mengakui dan memperbaiki kesalahan masa lalu.

Oleh karena itu, artikel ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan kesadaran bagi pembaca untuk memahami masa lalu bangsa Indonesia secar obyektif dan menghargai nilai-nilai kebhinekaan yang ada dalam masyarakat Indonesia saat ini

 

Azhar Vilyan

Dari berbagai sumber

Previous Post

H. Ujang Fahpulwaton Desak Kajari Sukabumi Usut Tuntas SPK Fiktif Senilai 37 Miliar di Dinkes Sukabumi

Next Post

Dr. Lie Kiat Teng, Seorang Mualaf Asal Sukabumi yang Pernah Menjadi Menteri

hariansukabumi.com

hariansukabumi.com

Next Post
Dr. Lie Kiat Teng, Seorang Mualaf Asal Sukabumi yang Pernah Menjadi Menteri

Dr. Lie Kiat Teng, Seorang Mualaf Asal Sukabumi yang Pernah Menjadi Menteri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Browse by Category

  • Apps
  • Berita Desa
  • Breaking News
  • Business
  • Entertainment
  • Gadget
  • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • LifeStyle
  • Mobile
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politics
  • Politik & Hukum
  • Popular News
  • Sejarah
  • Sports
  • Startup
  • Sukabumi
  • Tech
  • Technology
  • Travel
  • What's Hot
  • Wisata & Kuliner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
HARIANSUKABUMI.COM

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Barat
  • Sukabumi
  • Politik & Hukum
  • Peristiwa
  • Wisata & Kuliner
  • Pendidikan

© 2021 Harian Sukabumi - Portal Berita hariansukabumi.com.